TOKOH AGAMA ZOROASTER

 



Di sebuah kota yang disebut Azerbaijan, terletak di sebelah barat laut Kaspia (sebelah utara tanah Iran), tinggal seorang lelaki bernama Porushop Spitama, dari suku Spitama, bersama istrinya Dughdova yang cantik jelita pada 660 SM. Dughdova melahirkan seorang putra diberi nama Zarathustra. Banyak sekali teori yang mengemukakan tentang tahun-tahun kehidupan Zarathustra, di antaranya kemungkinan ia hidup antara 660-583 SM; antara 574- 551 SM; antara 570-500 SM. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Zoroaster hidup an- tara 2000-1800 SM.

Zarathustra sejak kecil sangat cerdas dan tangkas dalam berbicara, sehingga teman-temannya sangat segan. Saat berumur tujuh tahun, orang tuanya mengirimnya berguru kepada orang yang alim untuk be- lajar pelbagai ilmu, termasuk selain ilmu agama, seperti ilmu pertanian, peternakan, dan ilmu tentang obat. Selama delapan tahun Zarathustra belajar. Setelah masa belajarnya berakhir, Zarathustra kembali ke rumah orang tuanya dan memakai baju suci dengan ikat pinggang suci, yang melambangkan bahwa dia akan tetap berbakti kepada agama bangsanya.

Sepuluh tahun mengabdikan diri meringankan penderitaan orang-orang, Zarathustra melihat bahwa penderitaan selalu ada dan tiada habis-habisnya. Ini menimbulkan kegelisahan dalam jiwanya. Saat usianya 30 tahun, pada suatu hari ia berkata kepada istrinya, Havivi.

"Untuk sementara waktu saya hendak bertapa dan merenungkan tentang kebaikan dan kejahatan. Saya berharap dapat menemukan sumber penderitaan di dunia ini dan sebelum menemukannya tidak akan kembali."

Berangkatlah Zarathustra menuju sebuah gua di Gunung Sabalan, dan di situlah ia bertapa. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan Zarathustra bertapa merenungkan nasib manusia. Juga merenungkan semua pelajaran dari guru, ayahnya, dan pengalaman hidupnya. Tetapi semuanya belum memberikan jawaban tentang kebaikan dan kejahatan. Hingga suatu hari dia mendapat sebuah pemikiran bahwa dunia ini dipenuhi dengan dua kekuatan, yakni baik dan jahat. Kekuatan baik yang disebut dengan Ahura Mazda  dan kekuatan jahat yang dinamakan Angra Mainyu. Maka jelaslah bagi Zarathustra bahwa dunia ini dipimpin oleh Sang Maha Bijaksana, yakni Ahura MazdaDia memperoleh jabatan kerasulannya dengan turunnya suatu ayat (SBE, 31: 10-11), berbunyi: "This man is found for me here, who alone has hearkened to our enunciation." (Orang inilah yang kujumpai di sini, yang dia seorang saja sudah mendengarkan pemberitaan kami).

SUMBER





Sumber: Siti Nadroh and Syaiful Azmi, Agama-Agama Minor, 1st ed. (Tangerang Selatan: UIN Jakarta Press, 2013).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZOROASTER: AGAMA MONOTEISME

SIMBOL AGAMA ZOROASTER

BIOGRAFI PEMBIMBING